BrebesGo.id – Siapa bilang masa tua hanya diisi dengan istirahat dan duduk-duduk di teras rumah? Di berbagai desa di Indonesia, khususnya di Kabupaten Brebes, peran lansia sebagai penggerak sosial di desa justru semakin terasa nyata. Mereka tidak hanya menjaga nilai-nilai luhur budaya lokal, tetapi juga menjadi teladan hidup yang aktif dan mandiri.
Kita sering kali memandang lansia hanya sebagai pihak yang harus dilayani. Padahal, mereka menyimpan pengalaman, kebijaksanaan, dan semangat sosial yang masih sangat bermanfaat untuk pembangunan desa. Berbagai kegiatan kemasyarakatan seperti pengajian, gotong royong, pendampingan remaja, hingga pelestarian budaya lokal, tidak lepas dari kontribusi para orang tua kita ini.
Peran aktif lansia menunjukkan bahwa usia bukan halangan untuk tetap berdampak positif bagi masyarakat. Bahkan di banyak desa, para lansia justru menjadi motor penggerak kegiatan sosial, spiritual, hingga ekonomi mikro berbasis keluarga. Kehadiran mereka memelihara keseimbangan kehidupan desa yang harmonis.
Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, nilai-nilai sosial dan budaya desa mulai tergeser. Di sinilah peran lansia sebagai penjaga dan penerus kearifan lokal menjadi sangat penting. Mari kita telusuri lebih lanjut bagaimana lansia menjalankan peran mereka sebagai penggerak sosial di berbagai bidang kehidupan desa.
Lansia Sebagai Penjaga Nilai dan Budaya Lokal
Para lansia adalah arsip hidup desa. Mereka menyimpan banyak kisah, adat, dan tradisi yang tidak bisa ditemukan di buku sejarah mana pun. Dengan suara lembut dan kisah penuh hikmah, mereka menjaga budaya lokal tetap hidup dari generasi ke generasi.
Kegiatan seperti wayang kulit, kenduri, dan sedekah bumi masih terjaga karena ada lansia yang terus menghidupkan maknanya di tengah masyarakat. Mereka mengajarkan anak cucunya tentang filosofi hidup sederhana, kerja keras, dan gotong royong yang menjadi jati diri desa.

Di desa-desa tertentu di Brebes, para lansia bahkan menjadi narasumber utama dalam acara pelatihan budaya lokal dan sejarah desa. Anak muda yang tergabung dalam Karang Taruna rutin mengundang lansia untuk berdiskusi atau mendongeng dalam kegiatan komunitas.
Ini bukti bahwa peran lansia sebagai penjaga budaya lokal masih sangat relevan dan dibutuhkan. Tanpa mereka, warisan leluhur bisa hilang begitu saja.
Kontribusi Lansia dalam Kegiatan Keagamaan dan Spiritual
Selain sebagai penjaga nilai budaya, lansia juga memainkan peran penting dalam kegiatan keagamaan desa. Mereka menjadi panutan dalam menjaga tradisi ibadah, akhlak, dan kehidupan spiritual yang menenangkan.
Banyak lansia yang aktif menjadi pengurus masjid, majelis taklim, bahkan guru mengaji di pelosok desa. Mereka tidak hanya memberikan ilmu agama, tetapi juga menjadi teladan dalam kesederhanaan dan keteguhan hati.
Di Posyandu Lansia, kegiatan rutin seperti pengajian bersama, tadarus, dan dzikir menjadi momen mempererat tali persaudaraan dan mengisi hari-hari dengan kegiatan positif. Lansia juga membina generasi muda agar tidak terjebak dalam gaya hidup konsumtif dan kehilangan arah spiritual.
Kehadiran lansia dalam kehidupan spiritual masyarakat menjadi penyejuk sekaligus pengingat akan pentingnya nilai-nilai hidup yang luhur. Hal ini memperkuat harmoni sosial dalam kehidupan desa yang damai dan seimbang.
Lansia Sebagai Mentor dan Pembimbing Generasi Muda
Dalam banyak kesempatan, lansia tampil sebagai mentor informal bagi remaja dan pemuda desa. Dengan pengalaman panjang mereka, lansia membantu membimbing anak muda dalam menghadapi tantangan hidup, termasuk dalam memilih jalan pendidikan, karier, atau menikah.
Beberapa desa bahkan sudah mengembangkan program “Temu Generasi”, yakni forum diskusi antar-lansia dan pemuda. Di forum ini, pemuda mendapat kesempatan untuk belajar tentang sejarah desa, etika sosial, hingga manajemen emosi dari para lansia.
Di sisi lain, para lansia juga merasa dihargai karena ilmunya masih dibutuhkan. Hubungan yang saling belajar ini membentuk jembatan antar-generasi yang kuat dan mendalam.
Dengan menjadi pembimbing moral dan sosial, peran lansia sebagai penggerak sosial turut menjaga kestabilan masyarakat desa. Mereka menjadi figur penengah saat terjadi konflik sosial kecil dan menjadi penasehat yang disegani.
Kegiatan Ekonomi Produktif Lansia di Lingkungan Desa
Tak sedikit lansia yang tetap aktif dalam kegiatan ekonomi. Mereka membuktikan bahwa usia senja bukan alasan untuk berhenti berkarya. Bahkan banyak yang memanfaatkan keterampilan yang mereka miliki untuk menghasilkan pendapatan tambahan.
Di Brebes, beberapa kelompok lansia membentuk usaha kecil seperti produksi kripik singkong, anyaman bambu, atau jamu tradisional. Usaha ini bukan hanya menambah penghasilan, tapi juga mempererat kerja sama antar-lansia dalam komunitas.
Beberapa desa juga mulai menggagas koperasi lansia sebagai wadah ekonomi mikro yang berkelanjutan. Produk mereka dipasarkan secara lokal atau melalui media sosial oleh anggota keluarga yang lebih muda.
Dengan kegiatan ekonomi ini, lansia tidak hanya merasa berdaya tetapi juga memberikan kontribusi nyata pada perekonomian desa. Ini menunjukkan bahwa produktivitas tidak mengenal batas usia jika didukung dengan lingkungan yang inklusif.
Keterlibatan Lansia dalam Program Sosial dan Pemerintahan Desa
Lansia yang memiliki pengalaman sebagai tokoh masyarakat atau mantan perangkat desa, tetap aktif dalam kegiatan pembangunan desa. Mereka menjadi bagian dari musyawarah desa, forum RT/RW, hingga kegiatan sosial seperti bakti lingkungan.
Beberapa desa di Brebes bahkan telah membentuk Forum Komunikasi Lansia Desa yang rutin berdiskusi dan menyampaikan aspirasi ke pemerintah desa. Hal ini menciptakan ruang partisipasi yang sehat dan inklusif bagi para lansia.
Keterlibatan ini tidak hanya memberi warna dalam perencanaan pembangunan, tapi juga memperkaya perspektif generasi muda tentang bagaimana menyelesaikan masalah sosial dengan bijak dan damai.
Lansia juga aktif dalam kegiatan kebencanaan, seperti evakuasi banjir atau pendampingan warga terdampak, dengan peran sebagai penyemangat dan penenang warga.
Kesimpulan
Lansia bukan beban, tapi aset sosial desa yang sangat berharga. Yuk, kita dukung peran mereka sebagai penggerak sosial dengan memberikan ruang, perhatian, dan rasa hormat.












