Strategi & Simulasi

Rasanya Hidup di Kota Fiksi Indonesia inZOI Bikin Nangis, Nyata Tapi Bukan Dunia Nyata!

14

MerokettiLife‑sim Kota Fiksi Indonesia di inZOI – Cahaya Life Simulation

Awalnya saya kira inZOI cuma game life-sim biasa. Tapi setelah saya cobain langsung, kok rasanya kayak… hidup lagi di versi lain dari Indonesia. Bayangin: kamu bangun pagi, keluar dari rumah kecil di pinggir kota fiksi, jalan kaki ke warung kopi, terus duduk sambil lihat kehidupan kota berjalan. Ada tukang sayur, suara motor lewat, anak-anak sekolah lari-lari. Nggak tahu kenapa, tapi saya sempat berhenti main sebentar—bukan karena bosan, tapi karena bingung. Ini game apa kehidupan kedua?

Di tengah banyaknya game simulasi yang kesannya terlalu bule, inZOI – Cahaya Life Simulation nyelip kayak oase. Ada nuansa lokal yang kental, dari logat percakapan warganya sampai papan nama toko yang pakai huruf miring mirip di desa saya dulu. Rasanya kayak mudik tapi ke dunia digital. Saya sempat mikir, ini bisa jadi pelarian sehat buat yang rindu kampung tapi nggak bisa pulang. Life‑sim kota fiksi Indonesia ini bukan cuma soal bangun rumah atau ganti baju. Tapi tentang merasakan hidup. Yang kadang ringan, kadang bikin dada ngganjel.

Saya sempat nanya ke teman, “ini game beneran ada ya daerah kayak gini?” Jawabannya: nggak ada. Tapi justru karena kota fiksi Indonesia inilah, game ini jadi terasa bebas tapi tetap dekat. Kayak kamu bisa ngerasain suasana kampung halaman, tapi kamu juga bisa bangun dunia versimu sendiri. Dan jujur, ada satu momen di mana karakter saya duduk di bangku taman sendirian—sambil mikir, kok saya malah curhat di game?


Suasana Kota Fiksi yang Nggak Asing di Hati

Kota fiksi di inZOI ini bukan sekadar tempat. Ia kayak karakter hidup yang ngajak kamu ngobrol. Dari suasana pasar, suara ibu-ibu tukang sayur teriak, sampai anak muda yang nongkrong sambil gitaran, semuanya terasa relate. Bukan sekadar meniru dunia nyata, tapi menyentuh memori kecil yang selama ini mungkin kita anggap sepele.


Gameplay Life Simulation yang Ringan Tapi Bikin Mikir

Salah satu hal paling menyenangkan di inZOI adalah kamu nggak harus “berprestasi”. Mau kerja jadi tukang cuci motor? Bisa. Mau buka warung kopi pinggir jalan? Bisa juga. Sistemnya fleksibel. Dan justru di situ letak emosinya. Karena meski cuma simulasi, kadang saya beneran mikir, “hidup saya di sini kok lebih tertata ya?”


Aktivitas Sehari-hari ala Indonesia Banget

Berikut beberapa aktivitas yang bisa kamu lakukan di kota fiksi ini:

  1. Masak nasi goreng buat sarapan di rumah virtual

  2. Ngobrol sama tetangga yang doyan kepo

  3. Naik angkot ke sekolah atau kerja

  4. Belanja sayur di pasar pagi

  5. Ngelamun di pinggir sawah sambil dengerin radio jadul

Setiap aktivitas kecil ini nggak cuma mengisi waktu main, tapi juga bisa nyentuh sesuatu di dalam. Kadang malah lebih menyentuh dari drama Korea.


Detail Kultural yang Jarang Ada di Game Lain

inZOI tidak asal masukin elemen Indonesia. Mulai dari tata kota, gaya berpakaian karakter, bahkan aksen suara—semuanya terasa diteliti dan diperhatikan. Nama-nama tempat seperti “Warung Mbak Sari” atau “Salon Rahayu” bukan sekadar lucu-lucuan, tapi bikin kamu merasa “pulang”.


Refleksi Diri dari Dunia Digital

Jujur aja, saya sempat merasa bersalah. Karena saya lebih sering ngobrol sama tetangga digital di game ini ketimbang tetangga asli di dunia nyata. Tapi mungkin itu juga salah satu fungsi game: menjadi cermin dari apa yang kita lupakan. inZOI ngajarin saya satu hal—kadang kita cuma butuh ruang tenang untuk merasa hidup. Walaupun cuma di dunia fiksi.

Exit mobile version