BrebesGo.id – Di berbagai daerah, gerakan menanam pohon oleh pelajar sekolah tumbuh subur sebagai wujud kepedulian lingkungan. Para siswa kini tak hanya belajar teori, tetapi juga aksi nyata.
Berkegiatan langsung seperti penanaman pohon di lingkungan sekolah, murid dan guru bersama-sama menciptakan ekosistem yang lebih hijau dan sehat.
Gerakan ini juga dikenal sebagai Gerakan Satu Siswa Satu Pohon, di mana setiap peserta didik bertanggung jawab memelihara tanaman yang ditanamnya.
Melalui partisipasi generasi muda, gerakan ini membuktikan bahwa aksi konservasi oleh pelajar mampu menggugah kesadaran warga dan memperluas dampak ke masyarakat sekitar.
1. Gerakan Jumat Menanam di SMK Bhakti Kencana Ciawi
Di SMK Bhakti Kencana Ciawi, pelajar dan guru rutin mengikuti Gerakan Jumat Menanam. Mereka menanam pohon pucuk merah, cherry, damar, hingga markisa .
Program ini tidak hanya mempercantik lingkungan, tetapi juga mengajarkan siswa manfaat ekologis pohon—seperti menahan polusi, menjaga tanah, dan meningkatkan keanekaragaman hayati.
Kegiatan ini juga merupakan dukungan nyata terhadap program pemerintah mengurangi lahan kritis di Jawa Barat, sehingga memberi nilai strategis jangka panjang.
Selain itu, komitmen sekolah dan dukungan Dinas Kehutanan membuat program ini sustainable, serta memberi inspirasi bagi sekolah lain untuk ikut berpartisipasi.
2. Gerakan Menanam Sejuta Pohon di MAN 1 Ngawi
MAN 1 Ngawi melaksanakan Gerakan Menanam Sejuta Pohon, melibatkan seluruh siswa dan guru menanam berbagai bibit di area sekolah.

Para siswa juga mendapat edukasi langsung soal pelestarian alam. Ini menunjukkan pentingnya kolaborasi antara aspek pendidikan dan aksi lingkungan nyata.
Kegiatan ini selain beri manfaat lokal, juga menjadi pesan bahwa generasi muda bisa berperan aktif dalam mitigasi perubahan iklim.
Dengan semangat kebersamaan, gerakan ini menguatkan budaya sekolah peduli lingkungan dan menjadi contoh bagi komunitas sekolah lain.
3. Satu Siswa Satu Pohon di SMAN 1 Sangatta Utara
SMAN 1 Sangatta Utara menerapkan program Satu Siswa Satu Pohon sesuai edaran Dinas Pendidikan Kalimantan Timur .
Setiap siswa menanam satu pohon, mulai dari buah hingga peneduh, dan bertanggung jawab merawatnya. Ini menumbuhkan rasa kepemilikan dan kesadaran ekologis sejak dini.
Selain menanam, siswa juga belajar tentang pentingnya pohon dalam menyerap karbon dan mencegah bencana seperti banjir serta longsor.
Program ini menyatu dengan gerakan Adiwiyata, menjadikan sekolah sebagai laboratorium konservasi yang edukatif dan ramah lingkungan.
4. Gerakan Sekolah Sehat dan Pengendalian Perubahan Iklim
Di SDN 035 Soka Bandung, program Gerakan Sekolah Sehat diawali dengan penanaman pohon melawan perubahan iklim .
Ratusan siswa ikut menanam sebagai bentuk aksi nyata melawan polusi udara dan mendorong lingkungan belajar yang lebih sehat dan sejuk.
Kolaborasi antara Kemendikbud Ristek, BBPMP Jabar, dan sekolah memperkuat program ini, sekaligus menunjukkan pentingnya dukungan lembaga dalam aksi pelajar.
Gerakan ini juga memperlihatkan potensi skala nasional ketika sekolah peduli lingkungan bergerak bersama.
5. Gerakan Tanam 100 Pohon oleh Pelajar Pramuka
Di Gandek, IPNU‑IPPNU dan pelajar Pramuka melaksanakan Gerakan Tanam 100 Pohon tepat menjelang tahun baru.
Kolaborasi ini menunjukan bahwa pelajar lintas organisasi bisa bersatu demi konservasi, menciptakan ikatan sosial dan lingkungan yang erat.
Aksi penanaman pohon tersebut juga menjadi media pendidikan informal tentang pentingnya menjaga kelestarian alam secara gotong‑royong.
Dengan semangat kebersamaan, para pelajar menanam dan merawat pohon sebagai investasi ekologis jangka panjang bagi desa dan lingkungan mereka.
Kesimpulan:
Gerakan menanam pohon oleh pelajar sekolah membuktikan bahwa siswa mampu menjadi agen konservasi nyata. Aksi mereka—mulai dari satu siswa satu pohon hingga jutaan bibit—mendorong perubahan positif.










