BrebesGo.id – Di banyak desa di Kabupaten Brebes, terdapat sosok-sosok sepuh yang hidup dengan segala keterbatasannya. Mereka adalah para lansia yang telah mengabdi puluhan tahun sebagai petani, pengrajin, atau ibu rumah tangga. Kini, di usia senja, sebagian dari mereka hidup dalam kesunyian dan keprihatinan ekonomi. Namun, harapan itu belum sirna. Melalui berbagai program bantuan sosial untuk lansia di Brebes.
Pemerintah berusaha memberikan jaring pengaman agar mereka tetap hidup layak, terhormat, dan sejahtera. Bantuan ini bukan sekadar angka di rekening, melainkan bentuk penghargaan bagi mereka yang telah membangun desa dengan keringat dan ketulusan.
Sayangnya, tidak semua lansia di desa tahu atau mampu mengakses bantuan tersebut. Minimnya informasi, keterbatasan mobilitas, hingga kurangnya pendampingan membuat sebagian lansia terpinggirkan dari hak mereka sendiri.
Artikel ini akan membahas bagaimana program-program ini berjalan, siapa yang berperan, dan bagaimana strategi ideal untuk memastikan perlindungan dan kesejahteraan lansia desa benar-benar terwujud.
Jenis Bantuan Sosial untuk Lansia di Desa Brebes
Pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial dan pemerintah daerah Brebes telah meluncurkan berbagai jenis bantuan sosial bagi lansia tidak mampu. Program ini bersifat reguler maupun insidentil tergantung kondisi wilayah dan ketersediaan anggaran.
Beberapa bantuan utama yang tersedia di Brebes antara lain:
Program Asistensi Sosial Lanjut Usia Terlantar (ASLUT): memberikan uang tunai bulanan kepada lansia tanpa penghasilan dan tidak memiliki keluarga yang merawat.
Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan Sembako: meskipun bukan spesifik untuk lansia, program ini juga menyasar lansia miskin yang tercatat dalam DTKS.
Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD): banyak desa menyalurkan bantuan ini untuk lansia yang terdampak pandemi atau kondisi darurat.
Program Rumah Sejahtera Terpadu: untuk renovasi rumah tidak layak huni milik lansia.

Bantuan ini terbukti membantu banyak lansia dalam memenuhi kebutuhan dasar mereka, seperti makan, membeli obat, dan membayar iuran BPJS. Namun distribusinya masih perlu pengawasan dan transparansi.
Kriteria dan Mekanisme Penyaluran Bantuan bagi Lansia
Tidak semua lansia otomatis mendapatkan bantuan. Ada kriteria penerima bantuan sosial lansia yang ditetapkan pemerintah berdasarkan data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS). Syarat umum meliputi:
Berusia 60 tahun ke atas
Tidak memiliki penghasilan tetap
Tinggal sendiri atau tanpa keluarga yang mampu merawat
Terdaftar di DTKS melalui pemerintah desa
Proses penyaluran dimulai dari pendataan oleh RT dan RW, kemudian diajukan ke desa dan diverifikasi oleh Dinas Sosial. Setelah lolos verifikasi, nama lansia akan masuk daftar penerima bantuan. Bantuan bisa disalurkan melalui rekening bank, kantor pos, atau langsung oleh petugas desa.
Kendala yang sering muncul adalah ketidaksesuaian data, lansia yang belum memiliki KTP elektronik, atau tidak bisa hadir mengambil bantuan. Oleh karena itu, peran aktif keluarga, kader PKK, dan pendamping sosial sangat dibutuhkan.
Pemerintah desa di Brebes juga dituntut transparan dalam mempublikasikan daftar penerima, agar tidak ada ketimpangan atau kecurigaan dari masyarakat.
Peran Keluarga dan Masyarakat dalam Mendampingi Lansia
Bantuan pemerintah saja tidak cukup. Peran keluarga dan masyarakat desa sangat penting dalam memastikan bahwa lansia tidak hanya hidup, tetapi juga merasa dihargai dan dicintai. Di banyak desa Brebes, keluarga masih menjadi tempat utama lansia bernaung.
Namun tidak sedikit pula lansia yang hidup sendiri karena anak-anaknya merantau atau tidak mampu menanggung beban ekonomi. Dalam kondisi ini, masyarakat desa perlu mengambil peran kolektif—baik melalui tetangga, karang taruna, maupun pengurus RT.
Kegiatan seperti kunjungan rutin ke rumah lansia, mengantar mereka ke puskesmas, atau membantu mengambil bantuan sosial adalah bentuk gotong royong yang tak ternilai.
Beberapa desa juga membentuk Kelompok Peduli Lansia yang terdiri dari pemuda dan tokoh masyarakat. Mereka mendata lansia, mendampingi proses administrasi bantuan, dan mengadakan kegiatan sosial seperti senam lansia dan pengajian.
Gotong royong ini menjadi pelengkap nyata dari upaya pemerintah dan menciptakan lingkungan sosial yang ramah lansia.
Kesehatan Lansia sebagai Kunci Kesejahteraan
Perlindungan lansia tidak cukup hanya dengan bantuan ekonomi. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi lansia desa di Brebes adalah akses terhadap layanan kesehatan. Banyak dari mereka mengalami penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes, dan gangguan sendi.
Meski pemerintah telah menyediakan program BPJS Kesehatan untuk warga miskin, tidak semua lansia dapat memanfaatkan layanan ini dengan maksimal. Alasan utamanya adalah minimnya transportasi, tidak tahu cara berobat, atau takut pergi sendiri ke fasilitas kesehatan.
Puskesmas dan Posyandu Lansia di beberapa desa sudah berjalan dengan baik, tetapi cakupan layanannya masih belum merata. Oleh karena itu, perlu strategi jemput bola dari petugas kesehatan.
Program seperti kunjungan kesehatan rumah ke rumah untuk lansia bisa menjadi solusi efektif. Selain itu, pelatihan dasar bagi kader desa tentang perawatan lansia dapat membantu meringankan beban keluarga yang tinggal bersama orang tua mereka.
Peluang Pemberdayaan Lansia melalui Kegiatan Sosial Produktif
Tak semua lansia ingin “hanya menerima bantuan.” Banyak di antara mereka masih aktif, energik, dan ingin tetap produktif di usia senja. Oleh karena itu, program pemberdayaan menjadi penting sebagai pelengkap bantuan sosial.
Beberapa desa di Brebes telah memulai inisiatif pemberdayaan lansia melalui kegiatan produktif seperti:
Menjahit dan menyulam
Bertani ringan (hidroponik, tanaman obat)
Mengelola kebun desa
Mengajar mengaji atau kerajinan kepada anak-anak
Kegiatan ini tidak hanya memberi tambahan penghasilan, tetapi juga menjaga kesehatan mental lansia. Mereka merasa lebih berguna dan tetap terhubung dengan masyarakat sekitar.
Pemerintah dan LSM lokal seperti Yayasan Harapan Lansia Sejahtera telah bekerja sama untuk membentuk kelompok usaha lansia dan komunitas belajar sepanjang hayat. Ini menunjukkan bahwa kesejahteraan lansia juga bisa dibangun lewat partisipasi aktif, bukan sekadar bantuan pasif.
Kesimpulan
Program bantuan sosial untuk lansia di Brebes menjadi harapan baru bagi mereka yang hidup di usia senja. Namun, agar dampaknya benar-benar terasa, dibutuhkan sinergi antara pemerintah, keluarga, dan masyarakat. Mari bantu lansia desa kita hidup dengan layak, sehat, dan bermartabat.













