Sosial Masyarakat

Kegiatan Religi Bersama Lansia: Ibadah dan Kebersamaan

28
×

Kegiatan Religi Bersama Lansia: Ibadah dan Kebersamaan

Sebarkan artikel ini
Kegiatan Religi Bersama Lansia: Ibadah dan Kebersamaan

BrebesGo.id – Menjadi lansia bukan berarti hidup berhenti. Justru, di masa inilah seseorang mulai lebih dekat dengan Tuhan dan sesama. Di banyak wilayah, khususnya desa-desa di Kabupaten Brebes, kegiatan religi bersama lansia: ibadah dan kebersamaan mulai menjadi agenda rutin yang dinantikan.

Kegiatan ini tak hanya berfokus pada aspek spiritual, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antar lansia, memperbaiki kondisi mental, bahkan memperkuat semangat hidup. Ketika para lansia berkumpul untuk berdoa, tadarus, pengajian, atau salat berjamaah, tercipta energi positif yang tak tergantikan oleh aktivitas lain.

Banyak lansia merasa kembali memiliki tujuan, merasa didengar, dan merasa menjadi bagian penting dari komunitas. Apalagi, dengan adanya dukungan keluarga, pemerintah desa, dan tokoh agama lokal, kegiatan religius ini semakin tertata dan berkesinambungan.

Apa saja bentuk kegiatan religius yang dilakukan? Siapa yang terlibat? Dan bagaimana dampaknya terhadap kualitas hidup lansia? Mari kita bahas secara lengkap dalam subjudul berikut ini:

Pengajian Rutin dan Kajian Islam untuk Lansia

Salah satu bentuk kegiatan religi yang paling umum adalah pengajian lansia yang dilaksanakan secara mingguan atau bulanan. Kegiatan ini biasanya digagas oleh ibu-ibu PKK, Posyandu Lansia, atau pengurus masjid setempat.

Di pengajian ini, lansia tidak hanya membaca doa atau mendengarkan ceramah, tetapi juga bisa berdiskusi, bertanya jawab, bahkan menyampaikan keluh kesah. Banyak lansia merasa lebih tenang setelah mengikuti pengajian karena mendapatkan siraman rohani dan dukungan emosional.

Kegiatan Religi Bersama Lansia: Ibadah dan Kebersamaan

Selain itu, pengajian lansia menjadi ajang silaturahmi. Mereka bertemu dengan teman-teman sebaya, bertukar kabar, dan berbagi makanan khas yang dibawa dari rumah masing-masing.

Pengajian lansia juga membantu menjaga kesehatan mental karena mengurangi perasaan kesepian dan meningkatkan rasa memiliki terhadap komunitasnya.

Tadarus Al-Qur’an dan Pelatihan Membaca Iqro bagi Lansia

Tak sedikit lansia yang baru mulai belajar membaca Al-Qur’an di usia senja. Hal ini bukan sesuatu yang aneh. Justru banyak dari mereka merasa lebih damai dan fokus dalam mempelajari ayat suci di usia ini.

Beberapa komunitas desa di Brebes bahkan menyediakan guru ngaji khusus untuk lansia, lengkap dengan metode iqro dan bimbingan bertahap. Dengan semangat belajar tinggi dan dukungan dari komunitas, para lansia pun merasa termotivasi untuk terus belajar dan menghafal surah pendek.

Tadarus bersama yang dilakukan menjelang Ramadan atau setiap Jumat pagi juga menjadi ajang yang menyenangkan. Para lansia membaca Al-Qur’an secara bergiliran, didampingi oleh remaja atau anak-anak sebagai bentuk interaksi lintas generasi.

Hal ini menciptakan suasana religius yang hangat dan penuh makna, sekaligus mempererat hubungan antarwarga di desa.

Salat Berjamaah dan Doa Bersama di Masjid atau Musholla

Salat berjamaah adalah kegiatan paling dasar namun paling mendalam yang bisa mempererat ukhuwah antar lansia. Banyak lansia yang menyempatkan diri datang ke masjid untuk salat lima waktu bersama, terutama subuh dan maghrib.

Di beberapa tempat, setelah salat berjamaah, lansia biasanya berkumpul untuk membaca dzikir, istighosah, atau sekadar mengobrol santai sambil menikmati teh hangat. Hal sederhana seperti ini membuat hari-hari mereka terasa bermakna.

Program “Masjid Ramah Lansia” juga mulai dikembangkan, seperti penyediaan kursi salat, karpet tebal, hingga penerangan yang baik agar lansia merasa nyaman saat beribadah.

Kebiasaan berkumpul di masjid ini memperkuat nilai solidaritas dan menghadirkan suasana spiritual yang sangat dibutuhkan para lansia, terutama yang tinggal sendiri atau tidak lagi memiliki pasangan hidup.

Ziarah Makam dan Kegiatan Rohani Lapangan

Selain kegiatan di tempat ibadah, ziarah makam bersama juga menjadi salah satu agenda favorit lansia. Mereka berkunjung ke makam orang tua, pasangan, atau tokoh agama lokal untuk mendoakan dan mengenang jasa-jasa mereka.

Kegiatan ini biasanya dilanjutkan dengan doa bersama di lokasi yang telah ditentukan, seperti pemakaman umum, masjid tua, atau tempat bersejarah desa. Para lansia merasa terhubung secara spiritual, bukan hanya dengan Allah, tapi juga dengan sejarah dan perjalanan hidup mereka sendiri.

Ziarah bersama ini juga menjadi momen reflektif bagi para lansia untuk memperbaiki ibadah dan memperkuat hubungan dengan sesama sebelum dipanggil kembali ke sisi-Nya.

Dengan suasana khusyuk namun akrab, kegiatan ini mengisi ruang batin para lansia dengan damai dan kebijaksanaan yang mendalam.

Peran Keluarga dan Pemerintah Desa dalam Mendukung Kegiatan Religi Lansia

Agar kegiatan religius bisa berjalan lancar, dibutuhkan dukungan keluarga dan perangkat desa. Keluarga bisa membantu dengan mengantar lansia ke masjid, menyiapkan perlengkapan ibadah, atau sekadar memberi semangat agar tetap aktif beribadah bersama komunitas.

Sementara itu, pemerintah desa berperan menyediakan fasilitas dan anggaran kegiatan, seperti menyumbang konsumsi, menyewa ustaz, atau membangun sarana ibadah yang ramah lansia.

Beberapa desa bahkan sudah membentuk “Kelompok Religi Lansia” yang memiliki struktur kepengurusan dan agenda tetap bulanan. Ini menunjukkan keseriusan dalam menjadikan ibadah sebagai pilar utama kebahagiaan lansia.

Dengan sinergi antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah, kegiatan religi lansia bukan hanya berjalan baik, tetapi juga terus berkembang dan menjadi inspirasi desa-desa lain.

Kesimpulan

Kegiatan religi bersama lansia bukan hanya soal ibadah, tapi juga soal cinta, kebersamaan, dan penghormatan terhadap mereka yang telah lebih dulu menapaki jalan kehidupan. Mari kita rawat mereka dengan cinta dan ruang untuk beribadah bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *